Free to Fall – Lauren Miller

 

Mengerikan untuk membayangkan apa yang bisa dilakukan manusia untuk mencapai kesempurnaan. Dan jangan sekali-kali meremehkan orang yang memiliki tekad, dan punya kemampuan di bidang yang dia pilih untuk mencapai kesempurnaan itu. Karena, mereka pasti akan mencapainya.

Kecuali orang-orang itu punya penghalang seorang anak perempuan bernama Rory yang sedang menjalani tahun pertamanya di kampus, dan memiliki seorang hacker sebagai kekasihnya yang mulai bertanya-tanya soal kecanggihan handheld yang dia miliki.

Free to Fall bercerita tentang seorang anak perempuan, yang memiliki Ayah yang menyayanginya, dan memiliki Ibu tiri karena Ibu kandungnya meninggal dunia tidak lama setelah melahirkannya. Setelah masuk kampus, Rory mulai mengetahui rahasia yang dibawa Ibunya mati. Sebuah rahasia yang menjawab banyak pertanyaan yang menghantuinya tentang Ibunya.

Sambil mengikuti kelas, Rory juga harus menjalani kehidupan kampus dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dan tantangan dari sebuah organisasi rahasia kampus yang melakukan seleksi secara tertutup. Karena kecerdasannya, Rory berhasil sampai tahap akhir dari proses seleksi yang dia jalani. Kabar buruknya adalah, selama menjalankan seleksi, sedikit demi sedikit, Rory menemukan kepingan-kepingan dari rahasia besar, yang bukan hanya menyangkut Ibunya, namun juga menyangkut seluruh umat manusia. Karena penemuannya, ia memutuskan untuk tidak begabung dalam organisasi itu.

Maka, Rory dan kekasihnya, Sang Hacker yang menyukai gadget-gadget ketinggalan jaman (gadget yang saat ini kita gunakan, yes, di masa depan itu ketinggalan jaman), mulai menyelidiki hal-hal yang terjadi disekitar mereka dan penyelidikan itu membawa mereka pada peluncuran produk terbaru Lux—sebuah handheld super canggih yang bisa memilihkan kamu makanan di restoran, dengan menu yang tidak akan memicu alergimu. Iya, Lux tahu semua alergimu.

Bayangkan sebuah gadget yang bisa mengetahui kamu luar dalam. Ia tahu hal-hal terbaik yang ada di dalam dirimu, dan melalui kemampuannya mempermudah pengambilan keputusan, ia mendekatkanmu pada potensi-potensi baik yang membantumu berkembang—setidaknya menurut persepsi Lux. Ia juga tahu hal-hal apa yang mengancammu, dan dengan “baik hatinya” menjauhkan kamu dari hal-hal tersebut. Pencarian Rory terhadap kebenaran, mendapatkan titik terang ketika North, kekasihnya berhasil memasuki “otak” Lux milik Rory, dan menemukan hari Ulang Tahunnya ada di daftar ancaman yang tersimpan di Lux miliknya.

Rory, kemudian mulai mencari tahu perihal kelahirannya, dan menemukan fakta-fakta soal Ibunya, yang membawanya kepada ayah kandungnya, dan… rencana besar Lux yang mengerikan.

Buku ini berlatar di masa depan, pada tahun 2035. Saya akan berusia 43 pada tahun itu. Setelah membaca buku ini, saya kadang agak-agak paranoid jika ada merek gadget baru, juga dengan gadget-gadget yang terus menerus meningkatkan ke-smart-annya. Sambil menebak-nebak, kira-kira, merek mana yang akan menguasai masa depan nanti. Di buku ini, Lauren Miller menuliskan, Lux memiliki cara bertahap dalam pelaksaan rencana besarnya. Cara petamanya adalah, menguasai pasar gadget, mengambil alih pelanggan setia pengguna Android dan Apple. Sampai sebagian besar orang menggunakan Lux, dan pengguna Apple yang sekarang membanggakan gadget mereka, di 2035, akan dianggap aneh karena masih menggunakan Apple. Seperti Rory menertawakan North dengan Applenya yang berukuran 2 kali lebih besar dari Lux yang digunakan Rory.

Jadi, bisa dibilang, alasan saya tidak mengikuti perkembangan gadget secara aktif adalah karena: pertama, saya tidak mengerti gadget sama sekali. Dan kedua, karena saya tidak mau salah membeli gadget yang ternyata adalah gadget yang dipersiapkan untuk masa depan, yang akan mempengaruhi segala aspek kehidupan saya. Semacam itu. Juga, di masa depan nanti, saya mungkin akan menggunakan obat herbal yang saya tumbuk sendiri, karena untuk memaksimalkan kerja Lux terhadap seseorang, harus ada chip nano yang dimasukkan ke dalam otak. Dan untuk memasukkan chip nano itu, mereka butuh alat bantu. Alat bantunya adalah berupa obat flu yang dibagikan secara gratis kepada semua orang.

Itu dia, otak kamu bersinkronasi dengan gadget yang kamu genggam dan beroperasi sepenuhnya sesuai dengan itu, terlepas sama sekali dari dirimu sendiri.

Bayangkan, jika ada calon presiden yang ingin memenangkan pemilu, dia hanya perlu membayar perusahaan Lux dengan harga yang sangat mahal untuk memasukkan pikiran tentangnya di kepala sema orang untuk setuju memilih dia di pemilu mendatang. Dan kita semua, dengan chip nano di dalam otak kita, tidak akan tahu menahu soal kerja sama busuk yang mereka rencanakan. Menganggap keputusan untuk memilih calon presiden itu adalah kesadaran alami yang kita miliki karena dia pantas menjadi presiden.

Bayangkan hal lain, perbedaan pendapat lain, iklan-iklan yang tidak lagi harus berusaha keras menjual produknya, kesepakatan soal perang yang disetuji oleh satu organisasi atau Negara saja. Dunia bisa menjadi satu kesatuan yang utuh, dan para dalang di belakang Lux yang mengendalikan, keputusan apa yang harus kita ambil.

Mungkin, itulah kerasukkan massal dalam arti yang sebenarnya.

Dari sini, masa depan terdengar mengerikan dan licik.

Niat dari The Few—otak dari kesurupan massal ala Lux, sebenarnya standar saja seperti banyaknya manusia di dunia, yaitu mengejar kesempurnaan. Kali ini mereka berusaha mencapainya lewat kemudahan sebuah aplikasi handheld super canggih. Tapi, tidak semua orang harus sependapat dengan kesempurnaan yang mereka kejar. Dan dengan rencana yang mereka buat, mereka benar-benar niat dan sangat memaksakan semua orang untuk menerima itu. Memanfaatkan ketidak tahuan semua orang dan mengambil alih kehidupan mereka seenaknya.

Tenang saja. Buku ini berakhir bahagia. Masa depan selalu punya masa depan lagi, untuk memperbaiki diri.

Saya tidak tahu apakah sudah ada terjemahan dalam bahasa Indonesianya atau belum. Saya hanya mendownload PDFnya, dan memilih judul ini dari rekomendasi yang diberikan para pembaca lain di situs Goodreads. Saya hanya mendapatkan PDF berbahasa inggris saja, itupun setelah berkelana di link yang Google berikan, untuk mendownloadnya secara gratis.

Saya belum banyak membaca buku yang bertema masa depan seperti ini, dan buku ini sukses membuat saya ingin kembali membaca buku tema serupa: kegilaan masa depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s