Suatu Hari, di Kamar Terhangat, Ketika Hujan

Don’t put your future in somebody else’s plan.

Di hari-hari baik, di bawah pengaruh endorphin dan serotonin, orang-orang akan dengan sukarela membagikan kebahagiaan mereka.

Mungkin terdengar seperti remaja depresi ketika mengatakan, “kebahagiaan itu terlalu cepat berakhir”, tapi bukan. Tepatnya, realistis. Walaupun batas antara realistis, pesimis dan sinis kadang tidak begitu jelas pada saat-saat tertentu.

Jadi, soal masa depan itu.

Adalah salah satu hal yang menyenangkan ketika bisa berbagi dengan orang-orang yang disukai—no I’m not talking about crush or love, it’s more like, people that you care about. Karena seperti kebalikannya; menyebalkan ketika harus berbagi dengan orang-orang yang tidak disukai.

Dengan orang-orang yang disukai, akan menyenangkan jika melakukan banyak hal bersama mereka, termasuk membuat rencana. Rencana liburan ataupun rencana masa depan. Dengan orang-orang yang disukai, akan menyenangkan berbagi. Berbagi cerita, ataupun masa hidup. Dan masa depan, adalah masa hidup yang cukup berpengaruh.

Berpengaruh, pada banyak hal di masa sekarang. Keterbukaannya terhadap kemungkinan yang tidak habis-habis, mempengaruhi banyak hal yang terjadi saat ini. So, to share your future with someone else is kind of a big deal.

Tapi itu tadi.

Saat hari-hari baik, dan tidak ada yang berantakan—bahkan mood, orang-orang merasa bisa melakukan apa saja. Ketika semua berjalan lancar, orang-orang merasa, dunia sedang berada di sisi mereka. Semesta mendukung, semacam itu.

Tapi perasaan semacam itu adalah perasaan yang besar, dan manusia kekecilan. Jadi kadang, perasaan itu tidak muat, manusianya kewalahan. Cara menghadapi kewalahan yang paling wajar; lupa.

Lupa.

Lupa.

Lupa.

Atau disederhanakan saja. Lupa memang terdengar sepele, tapi sebenarnya ia adalah kerumitan yang terkendali jika digali.

Lupa rencana masa depan? Kerumitannya bisa beranak pinak. Jadi kekecewaan, kemarahan atau kehilangan.

Kehilangan. Itu buruk.

Jadi, sederhanakan saja. Bukan lupa. Bukan itu.

Tapi, things change. And that’s what thing does, it changes.

Jadi, waktu terlewati, pengetahuan bertambah. Pengetahuan yang bertambah, karenanya seseorang akan berubah. Prioritas berganti. Keadaan tidak lagi sama. Semua orang punya urusannya masing-masing. Punya hal-hal yang tidak mereka ceritakan, yang mungkin lebih penting dari rencana masa depan manapun.

Jadi, jangan letakkan masa depan di rencana orang lain.

Hal-hal yang berbenturan itu tidak menyenangkan.

Dan membenci orang-orang yang disukai karena prioritas mereka tak lagi sama, juga tidak menyenangkan.

Tidak mempunyai masa depan, tidak menyenangkan.

Jadi, lakukan saja sendiri. Karena, sesungguhnya, ketika orang-orang yang disukai telah mencapai perubahan mereka, tanpa basa-basi, diri sendiri juga belajar sesuatu. Misalnya, pelajaran merubah prioritas.

Kalau orang-orang yang kita sayangi sudah menemukan kebahagian mereka, maka sisanya adalah berbahagia untuk mereka… dan cari kebahagiaan sendiri.

Karena, kalau semua hal harus digantungkan pada orang lain, bisa berakibat buruk.

Kau sudah tahu apa akibat buruknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s