Fix These?

Semesta kadang lucu juga, seperti malam ini.

Seminggu yang lalu, saya membaca tulisan lama yang saya tulis ketika Desember 2014, dan tulisan itu, masih relevan dengan keadaan yang saya alami belakangan ini. Itu menimbulkan perasaan yang mengganggu. Ternyata, saya sudah setahun bersama dengan kesulitan-kesulitan ini, ia hanya bertambah semakin rumit.

Tadi, saya sedang dalam perjalanan pulang ketika memikirkan segala hal yang terjadi belakangan ini, kemudian merangkum setahun ini dalam satu kata (cukup satu kata): berantakan.

Sama seperti banyak orang yang selalu tersihir untuk menjadi positif dan optimis di setiap tahun baru, saya pun beranggapan, tahun depan akan jauh lebih baik. Tahun depan, yang tinggal beberapa hari lagi. Dan lihat saya sekarang, tiga hari sebelum tutup tahun dihempas dengan dua kejadian yang terjadi selama dua hari berturut-turut yang kembali meletakkan saya di posisi paling bawah dalam pertarungan yang Hidup hadapkan pada saya untuk melawan 2015.

2015 mengalahkan saya dengan telak, di berbagai nilai yang justru sedang penting-pentingnya.

Lucunya, Semesta belum puas bermain, atau mempermainkan.

Tadi, dalam perjalanan pulang, saya sibuk memikirkan banyak hal yang terjadi belakangan ini, menyusun dengan rapi semua hal yang berantakan itu, untuk merenungi segalanya. Sayangnya, saya hanya dihadapkan dengan banyak jalan buntu. Apa yang lebih menyedihkan dari memiliki banyak solusi untuk permasalahan, tapi solusi itu sendiri terhalang berbagai sebab dan akibat yang terus saling berhubungan? Tidak ada! Memiliki banyak jalan dan kesemuanya buntu; itulah yang paling menyedihkan. Kemudian saya memikirkan sebuah lagu dari Coldplay, tapi ingatan saya sedang buruk sehingga saya hanya mampu mengingat satu baris lirik. When you feel so tired but you can’t sleep, tanpa nada.

Ketika dekat sekali dengan rumah, lewat radio di mobil sepupu yang saya tumpangi terputar lagu yang sempat singgah di tengah-tengah pikiran saya yang lelah sampai tidak bisa mengingat dengan baik. Fix You. Dari Coldplay. Tidak lama setelah saya kebingungan mengingat lagu ini. Saya langsung tersenyum kecut, kemudian mengutuki Semesta.

Di tengah-tengah kesadaran akan semua yang berantakan, semena-mena ingatan saya berlari ke lagu ini, semena-mena pula Semesta menggunakan frekuensi radio untuk memperdengarkannya. Betapa hal semacam ini menjadi tamparan yang pedas, karena Kebetulan adalah mitos usang yang telah ditinggalkan.

Semoga, itu tadi hanya cara Semesta menghibur dalam tumpukan berbagai macam berantakan. Atau tanda yang harus saya pecahkan untuk menemukan setidaknya satu jalan yang tidak buntu. Bukan sebuah peringatan, terhadap apa pun.

2015, you got me on my knees.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s