Marah Maklum

Kejujuran selalu tentang bagaimana ia diungkapkan.

Saya marah, pada beberapa orang yang tidak perlu saya sebutkan namanya tapi mereka akan tahu dengan siapa saya sedang berbicara lewat tulisan ini. Saya tidak mengungkapkan secara langsung kepada yang bersangkutan karena, seseorang yang marah berhak menentukan sedramatis apa ia mengungkapkan amarahnya. Saya juga butuh pengingat sejelas tulisan ini agar tak lagi harus berada di situasi yang sama di waktu mendatang.

Kemarahan ini dimulai pada suatu hari ketika saya kelaparan, dan sialnya, saya sedang tidak punya uang. Insting pertama saya adalah untuk meminta bantuan teman, tapi seberapa besar seseorang bisa berharap dari orang lain yang juga punya hidup mereka sendiri? Maka, saya coba mencari jalan keluar lain. Sebuah ingatan tentang pembayaran rajutan yang belum dilakukan oleh teman saya muncul. Otomatis saya menghubunginya, karena saya benar-benar kelaparan pada saat itu.

Lewatkan saja cerita tentang saya yang kelaparan, karena itu sedih. Hari itu, saya harus kecewa, mereka juga sedang tidak punya uang untuk memenuhi kewajiban mereka.

Maka saya berdoa agar tak satupun teman saya harus kelaparan dengan cara seperti itu. Mama saya pernah bilang, jika ada orang yang melakukan hal tidak menyenangkan kepada kita, kita harus mendoakan mereka dengan kebaikan, agar hidup mereka bahagia dan mereka tidak lagi punya alasan untuk melakukan hal tidak menyenangkan. Sifat sabar Mama saya adalah salah satu dari banyak hal yang tidak mudah saya percaya dalam hidup ini.

Mama sepertinya punya banyak sekali persediaan kesabaran.

Beberapa orang yang tahu mengenai rajutan yang belum dibayar ini bereaksi dengan marah ketika saya menceritakan kepada mereka beberapa hari setelahnya. Hari itu saya sudah makan, ditraktir mereka. Saya membela teman saya yang belum membayar uang hasil rajutan. Saya bilang saya tidak enak untuk menagih, juga karena kami adalah teman dan tidak seharusnya persoalan uang berada diantara orang-orang yang berteman.

“Teman ya, teman. Bisnis ya, bisnis, Nanda (teman saya yang ini memang lebih sering memanggil saya dengan nama tengah, bukan nama panggilan saya). Justru karena dia temanmu, dia harusnya sudah lama bayar. Masa’ temannya dia kasih begitu?” dia masih mengucapkan beberapa kalimat lagi, tapi saya tidak harus menuliskannya. Cukup lama bagi saya untuk mengerti dan paham kemarahan teman saya pada saat itu dengan cara berbeda. Saya paham pada kesimpulan: sebagai teman, justru merekalah orang-orang yang seharusnya menjadi pendukung apa yang kita kerjakan, bukan berlindung dibalik label “teman” untuk menciptakan berbagai pemakluman.

Jadi persoalan perut saya lapar itu hanya pengantar jujur yang membawa kita pada persoalan yang sebenarnya. Lagipula, hanya untuk berkata, “saya lapar”, tulisan sepanjang ini benar-benar berlebihan. Mengingat dengan update status saja ia bisa dilakukan.

Saya menyesali keputusan saya untuk menjual rajutan kepada teman-teman saya. Semakin saya sadari hal ini, semakin saya tahu bahwa proses merajut itu lebih dari sekedar merubah gulungan benang menjadi sesuatu yang bisa dipakai. Terdengar berlebihan, tapi inilah salah satu resiko menjadi seseorang yang menaruh perasaannya pada hal-hal yang dia kerjakan.

Kenyataannya, dikecewakan oleh teman sendiri adalah yang perasaan paling tidak menyenangkan. Kalau ternyata tulisan ini ternyata meninggalkan kesan yang sama, saya hanya bisa meminta maaf, dan bergabung dalam lingkaran setan yang ada di paragraf ke sembilan: menggunakan label “teman”, untuk meminta pemakluman.

Saya bisa saja menanggapi ini sebagai ujian dalam pertemanan atau semacamnya, untuk kemudian membiarkannya berlalu seolah-olah ini baik-baik saja. Tapi tidak bisa, karena pertama, saya bukan Mama saya yang bisa sabar bahkan dalam kondisi terburuk. Kedua (bahkan ketika saya enggan mengakui), saya benar-benar merasa terluka. Ketiga, saya tidak akan bisa menyampaikan maksud dari keseluruhan apa yang saya rasakan jika kejujuran ini diungkapkan secara langsung.

Jadi, ini dia kejujuran itu: saya terluka.

Saya terluka, karena saya tahu teman saya adalah orang yang mengerti bagaimana membuat sesuatu dari tangan mereka sendiri. Saya tidak berteman dengan orang-orang dangkal yang hanya mampu melihat permukaan dan hanya percaya pada hasil. Kami berada di lingkungan yang sama, dimana menghargai proses adalah hal terpenting dari suatu pekerjaan. Saya tidak menuntut untuk dihargai sedemikian rupa, hanya cukup memenuhi kesepakatan di awal.

Saya menunggu terlalu lama untuk mendapati kesepakatan kami tidak berarti apa-apa.

Teman saya yang lainnya berkata, “saya lihatnya itu anak-anak memang begitu ke kau. Mungkin karena mereka merasa akrab, jadi mereka santai sekali ke kau. Paling mereka bilang, ‘ah, nda’ mungkin ji Vivi marah’, kalaupun kau marah mereka pasti tanggapi becandaan.”

Ouch.

Kesalahan tentu saja ada di saya—bukan karena saya sok-sok bijak—karena saya membiarkan orang untuk melakukan hal tersebut ke saya. Terlepas bagaimana rumitnya alasan saya membiarkan itu, atau kenapa saya tidak berusaha untuk menekan situasi ini untuk mendapatkan apa yang saya mau—atau lebih tepatnya, untuk memperoleh hak saya.

Karena alasannya memang hanya itu, alasan yang sama mengapa situasi ini membawa saya sampai di sini: mereka teman saya. Memaksa teman saya untuk menyelesaikan kesepakatan kami juga tidak terdengar seperti solusi. Saya hanya bisa mengungkapkannya tanpa ekspektasi apa-apa. Melarikan diri dari lingkaran setan label “teman” sepertinya bukan hal yang mudah—pemakluman untuk pemakluman lainnya. Sepertinya, ajaran Mama untuk menjadi sabar mempengaruhi kasus tertentu dalam ukuran semampu saya.

Mungkin, lewat tulisan ini, orang akan semakin berpikir, “tidak masalah membuat Vivi marah, karena dia akan selalu bisa diajak bercanda setelahnya dan semua akan baik-baik saja”. Mungkin benar. Tulisan ini bisa menjadi argumen yang kuat untuk itu.

Tidak apa, toh kalau saya marah lain kali, saya bisa menuliskannya lagi. Mungkin tanpa sensor nama dan tempat. Saya terdengar mengancam?

Bisa jadi.

 

*saya bis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s