Keluhan Panjang, Mencari Jalan Keluar

Kau tidak bisa hidup dalam kepala yang penuh ide jika perutmu kelaparan, dan kakimu kedinginan.

Lapar dan dingin, adalah dua hal yang memaksamu untuk tidak memikirkan hal lain selain bagaimana caranya bertahan hidup. Ide brilian? Lupakan! Kau kelaparan, tanpa uang. Sayangnya kau tidak bisa pulang, kau tidak punya rumah di belantara antah berantah. Dan kenyamanan, adalah nafas sebuah rumah. Maka, merasakan ketidaknyamanan yang konstan ketika kau tidak di sana, adalah kealamian yang takkan bisa kau hindari.

Tak peduli sebanyak apa mereka berkata, mereka tidak keberatan.

Kau kelaparan, itu masalahnya. Dan itu adalah penyambutan paling pahit dari dunia orang dewasa, dunia dimana orang-orang berusaha memegang kendali pada hidup mereka sendiri. Bekerjalah, karena kau lapar. Dan itu menyakitkan sekali, apalagi ketika perutmu sedang perih-perihnya, dan kau hanya mampu menatap layar, memenuhi otakmu dengan omong kosong sosial media dan ribuan video yang kau harap mampu membuatmu tertawa. Kau tidak bisa memaksakan diri untuk mencari sesuatu bermakna, karena kau terlalu lapar untuk memikirkan segala yang tersirat.

Kau lapar sekali, sampai kadang rasanya mau menangis.

Harus selalu pengalihan. Karena kau hanya ingin lupa bahwa kali terakhir kau makan adalah kemarin sore sekitar jam 5. Dan semakin hari, perutmu semakin mampu menyesuaikan diri. Ia mampu bertahan lebih lama dari kemarin. Jika kemarin kau sudah harus makan jam 7 malam, seminggu kemudian, kau tahu bagaimana menahannya hingga pukul sepuluh.

Itu satu-satunya solusi yang kau tahu: menghadiahi dirimu makan malam.

Setidaknya kau tidak tidur dengan perut lapar, agar tidak mimpi buruk.

Ah, kau berlebihan. Semua orang lapar, semua orang bekerja. Seharusnya tidak perlu dituliskan seperti ini. Tapi, kelaparan karena tidak berselera makan, tidak sama dengan kelaparan karena kau tidak punya cukup uang untuk membeli makanan.

Kau tahu apa bagian terburuknya? Kau hampir saja menyerah pada mimpimu, pada visimu terhadap masa depan. Kau hampir saja berpikir, bahwa pekerjaan yang dicintai itu hanya mitos goblok untuk memaklumi sistem besar yang dipaksakan padamu. Kau hampir saja yakin, bahwa hasrat menggebu-gebu pada keyakinan yang kau senangi adalah omong kosong, dan kekanak-kanakan. Dan itu terlalu kejam untuk seseorang yang sedang memantapkan tempatnya berdiri di dunia yang sesak ini.

Tapi kau kemudian dibangunkan oleh sebuah kalimat dari zine yang ditulis oleh seorang Anonim, di situ tertia menulis, “we learn best through pain”. Dan kau pikir, rasanya sudah lama sekali kau tidak nyaman. Lalu kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan sinting, yang jawabannya mengarah pada kesimpulan, bahwa “if you want something you’ve never had, then you’ve got to do something you’ve never done”.

Maka, kau harus mengambil keputusan. Keputusanmu adalah pergi, walau bertahan terdengar sangat menggoda, karena bagaimanapun juga kau peduli. Tapi, kau hanya bagian kecil dari mimpi besar mereka yang juga kau sepakati. Mereka akan baik-baik saja. Lagipula, kau harus membuktikan apa yang mereka selalu katakan: “you’re good”, “I enjoy what you do”, “just keep doing what you do”.

Kalau memang itu bukan basa-basi, maka di luar sana kau hanya perlu melakukan apa yang selama ini kau lakukan. Dan kau takkan tahu apakah itu sekedar basa-basi, jika kau tidak memberanikan dirimu untuk ‘mempertanyakannya’ pada orang lain di luar sana.

Juga, kau harus menyelamatkan dirimu sendiri. Karena belajar adalah proses yang mendewasakan, dan walaupun ujar sang Anonim dalam zine luka adalah cara belajar terbaik, kau tidak bisa hanya belajar dari luka. Seperti banyaknya hal ajaib yang hadir lewat pelajaran yang disajikan Kehidupan, sebanyak itu pula pelajaran menjadikan beberapa kesimpulan masalah menjadi prinsip hidup yang merubah cara pandang untuk beberapa waktu, atau selamanya. Maka, untuk persoalan pembentukan prinsip hidup ini, kewarasan adalah hal yang esensial. Oleh sebab itu, kelaparan tidak boleh terlibat, karena “you are not you when you’re hungry”.

Kau tidak bisa menyalahkan siapapun untuk situasi tidak menyenangkan, karena tidak banyak orang yang ingin disalahkan, atau meminta maaf jika mereka memahami kesalahannya. Karena sedang belajar menjalani hidup sendiri, maka salahkan saja diri sendiri kenapa menunggu lama untuk berkata, “I had enough!”. Kenapa membiarkan diri sendiri berada dalam situasi dan kondisi yang mudah sekali membuat kau kelelahan? Kenapa rela saja bertahan ketika kau harus kehilangan dirimu sendiri secara perlahan? Semua orang pada akhirnya menjalani kehidupan mereka masing-masing, jadi temukan cara sendiri untuk menemukan diri sendiri.

Karena sesungguhnya, kehilangan terburuk adalah kehilangan diri sendiri. Yang lebih buruk? Alasan kehilangannya adalah karena tak punya cukup uang untuk makan, atau membeli buku baru untuk nutrisi otak.

Setelah ini apa? Belum tahu juga, tapi setidaknya kali ini tidak lagi mempertanyakan kesanggupan atau alasan kenapa memulai (karena “it’s the end when you start thinking about the beginning”). Tapi kali ini pertanyaannya keluar dari sudut-sudut rimba yang penuh dengan kemungkinan.

Mungkin cukup untuk malam ini, sampai besok pagi!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s