Lampu Padam, Otak Menyala dalam Gelap

Saya menemukan kata baru tahun lalu. Nyctophilia, artinya adalah merasa nyaman di kegelapan; finding relaxation or comfort in the darkness. Sebuah kata yang seharusnya saya temukan sedikit lebih cepat.

Kata yang membuat saya membayangkan sesuatu dalam gelap…

*

Saya membayangkan, jauh sebelum kata ‘nyctophilia’ diciptakan, penemu kata ini pasti sangat kesepian. Semua orang yang ia kenal, di dalam gua-gua pra sejarah, ketakutan jika malam tiba. Karena itulah segala aktifitas mereka terhenti ketika matahari terbenam. Mereka didongengi bahwa makhluk-makhluk aneh atau jahat berkeliaran di malam hari, menyebarkan hal buruk, sedingin cuaca yang harus mereka hadapi di bawah bulan. Saya pernah membaca, manusia cenderung merasa takut akan sesuatu yang tidak mereka kenali.

Sebuah adegan Nyctophile pertama di Bumi berbaring dalam gua mereka—atau di gubuknya—dan merasa sangat damai dalam kegelapan, muncul dalam kepala saya. Nyctophile pertama itu seorang yang miskin, dimana malam-malam yang ia lewati adalah malam-malam dingin di gua atau gubuk, tanpa cahaya lampu minyak seperti di istana-istana para Raja. Kegelapan yang tiada selama api unggun menyala, selebihnya gelap yang terlalu pekat.

Dalam kepala saya, saya melihat ia berbaring terlentang menatap langit-langit dan mulai berpikir bahwa dia telah dikutuk para Dewa atau membayangkan dirinya berasal dari tempat yang sangat mengerikan. Karena ia merasa sangat nyaman dalam suasana sarat teror bagi orang-orang pada masanya. Dia membayangkan hal buruk macam apa yang telah dia lakukan di kehidupannya yang lalu hingga dia dikutuk oleh perasaan yang tidak seharusnya dia miliki—menurut dongeng masa kecil yang diceritakan ibunya ketika dia berusia enam atau tujuh tahun.

Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, perbuatan apa yang dilakukannya, mengapa ia harus dikutuk oleh rasa sejanggal itu.

Ia lalu tak pernah menceritakan itu kepada siapapun, bahkan Ibunya. Ia takut akan menjalani semacam ritual pengusiran roh jahat. Ia ngeri membayangkan orang-orang di pasar atau dermaga membicarakannya, mengatakan bahwa ia adalah manusia terkutuk yang menjadikan gelap adalah teman baik. Tapi kemudian ia mendongengi anak-anaknya tentang seorang Peri yang menjaga anak-anak manis dalam tidur. Sambil membelai ubun-ubun anaknya, dia meyakinkan anak-anaknya bahwa tidak ada yang perlu ditakuti di dalam kegelapan.

Melalui dongeng yang ia ciptakan setiap kali ia menikmati tenangnya malam, ia menjauhkan anak-anaknya dari dongeng mengerikan tentang kegelapan. Berharap anak-anaknya tidak ketakutan tanpa cahaya. Berusaha membagikan perasaan nyamannya akan kegelapan dan malam hari, agar ia tahu ia bukanlah satu-satunya Nyctophile. Membagikan perasaannya untuk membuatnya merasa normal. Lalu ketika anaknya bertanya siapa nama Peri penjaga tidur itu, ia menjawab, “Namanya Nykto. Sayapnya berkilauan seperti jutaan bintang. Tetapi Dewa tidak ingin manusia menangkap mereka untuk dijadikan lentera. Maka Dewa membuat mereka muncul hanya ketika semua orang tertidur. Kita tidak bisa melihat mereka, tapi mereka menjaga kita dalam tidur sampai Matahari tiba”.

Setiap malam, setelah anak-anaknya tertidur lelap, ia menikmati malam sedikit lebih lama dari siapapun di dunia.

*

Nampaknya besok pagi saya bangun telat lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s