Dan Kata Mereka, Jangan Bunuh Anak Kecil dalam Dirimu

Jika kita lahir bersamaan dengan Alam Semesta, maka aku takkan lagi meragukan keakraban pada matamu. Itu mungkin hanya ingatan yang direkam debu-debu bintang yang meledak milyaran tahun lalu namun gagal kukenali. Kecanggungan menjadi konsep yang tidak masuk akal rasanya.

Kadang, imajinasiku bisa menjadi begitu kurang ajar.

Misalnya ketika aku membayangkan atom-atom yang menyusun matamu mengenali atom-atom kecil mataku, dan mereka saling menyapa. Berjejalan satu sama lain dan berkata, “senang bertemu kembali”. Tapi kita berdua, tidak memahami bahasa itu, hanya menerjemahkannya sebagai rasa menggebu yang tak pernah cukup diungkapkan. Kemudian seenaknya menyederhanakan itu, sebatas candu tak terhindarkan pada tiap tatapan.

Atau, di lain waktu ketika aku memikirkan sebuah kemungkinan bahwa bisa saja bukan kita yang saling merindu. Tapi debu-debu bintang yang mati dan lahir kembali sebagai ujung-ujung jari. Mungkin mereka selalu bersama ketika planet-planet mulai terbentuk, dan setelah melalui perjalanan panjang, mereka bertemu lagi pada suatu pagi di pertengahan tahun 2013. Sejak saat itu, menggenggam tanganmu tidak lagi sebatas pekerjaan indra peraba—tapi pelampiasan rindu jutaan atom yang saling mengenali diri.

Imajinasi memang selalu seperti anak kecil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s