Kalau Saja Bisa Sederhana

Kau selalu tahu apa yang kau mau, tapi pada saat yang bersamaan, terlalu dungu untuk memahami apa yang kau butuhkan. Jadi skenarionya selalu sama: kau ditimpa kejadian yang tidak kau mengerti dan marah pada situasi berkali-kali hanya untuk kembali berada di situasi yang sama. Seolah-olah kau tak punya jalan keluar.

Tidak memiliki jawaban yang kau butuhkan atas pertanyaan yang menekan memang bukan keadaan yang menguntungkan.

Mengapa harus serumit ini? Mengapa, memiliki pengetahuan tentang beberapa hal justru menjadi belenggu yang tidak nyaman bukan malah membebaskan diri dari banyak bentuk ketidakmampuan atau kesalahan berpikir? Walau kau paham sepenuhnya proses belajar adalah perjalanan yang terus menerus, tetap saja kau berharap bisa berhenti sejenak.

Selalu ada keterbatasan, walau para pendahulu di jalan yang kau pilih berkata, “kau sendirilah yang membuat batasan itu”.

Dalam banyak perbincangan positif, selalu diingatkan bahwa manusia mampu menjadi jauh lebih besar dari apa yang dia pikirkan tentang dirinya. Setiap orang mampu mencapai potensi maksimalnya jika terus menerus mendorong batas kenyamanan selebar mungkin. Siapa saja mampu menjadi apapun yang dia inginkan.

Mungkin bisa saja mempercayai itu. Tidak ada salahnya berpikiran positif terhadap kemampuan diri sendiri—seandainya kau mau menjadi sedikit lebih naïf.

Ketika kau jauh lebih muda, kau pikir menjadi dewasa akan menyenangkan. Pada akhirnya, ada masa dimana segala keputusan kau lakukan sendiri. Tanggung jawab tak mungkin sesulit yang kau dengar. Mengurus diri sendiri adalah hal yang paling mudah. Kau tak harus lagi patuh pada larangan masa kecil, kini kau bisa mempertanyakannya.

Itu benar, namun ketika segala keputusan adalah milikmu sendiri, kau memiliki pandangan idealmu, tapi kau masih tak bebas dari nilai-nilai yang telah lama ditanamkan.

Kau pikir memiliki sepenuhnya hidupmu adalah kebebasan mutlak yang tidak bisa diambil oleh siapapun. Kau bisa menjadi apa saja, itu dongengnya. Bisa, selama kau tetap pada segala yang sudah ditanamkan padamu jauh sebelum kau mengerti ukuran benar atau salah. Bisa, selama kau mengikuti jejak yang sudah. Bisa, selama kau diperbolehkan.

Sayangnya untuk mendapat persetujuan, kau tidak diperkenankan terlibat dalam perumusan aturan, karena orang-orang sebelummu tak pernah salah jadi mereka tak butuh pendapatmu.

Mereka tidak salah ketika berkata kau harus menjadi yang terbaik. Mereka juga tidak pernah salah ketika menentukan kriteria “terbaik” mereka yang harus kau penuhi. Mereka merayakan dirimu atas keinginanmu untuk terus belajar. Tapi jangan terkejut, ketika berbicara dengan mereka kau harus selalu mengamini apapun kebenaran yang mereka tau.

Kau boleh belajar apapun. Tapi mereka akan selalu menjadi yang paling benar. Kalau kau biarkan, lantas apa yang kau pelajari?

 

Entahlah, mungkin ketabahan untuk patuh tanpa merasa dikuasai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s