Karena Kau Tak Pernah Sebatas Bayangan

image

Kau ternyata menyakitkan—sesuatu yang mengejutkan.

Mengingat hal baik adalah salah satu cara untuk terus merasa beruntung, dan aku menjaga banyak hal tentang kau dengan cara itu. Karena bahkan ketika aku berusaha mengelak, ada masa dimana beberapa hari berlalu, dan aku hanya merindukanmu. Mungkin menginginkan reaksi yang baik-baik saja adalah terlalu muluk.

Kau tahu bagaimana kau terkekalkan dalam ingatanku?

Kau kekal bagai sejuk percakapan di taman pegunungan, memeluk seperti kabut, dan jaket merahmu adalah satu-satunya hal yang nyata. Tapi belakangan kesejukan menjadi sebuah selimut yang dingin. Dan jaket merahmu memudar dalam selaput kabut.

Semenggembirakan tawa di siang-siang kemarau, menggoda dalam gelak yang berirama. Memperhatikanmu hanya untuk bergumam, “bodoh” adalah cara menjalani hari yang paling tanpa beban. Sayangnya, sepanjang musim hujan awal tahun, kau menjadi alasan yang terlalu sendu.

Kau adalah senostalgia malam-malam yang kita habiskan di jalan, ketika kita merayakan kehidupan yang paling riuh dalam sunyinya jam tidur orang-orang, dan genggaman tanganmu adalah hangat yang menggelitik pelan telapakku. Hingga suatu hari jari-jarimu mengisyaratkan segala yang tak mungkin.

Sespontan kencan teh hijau. Aku tak tahu apa kau tahu rasanya duduk di bahu seseorang yang berlari, tapi itu menakutkan. Tapi walau kau terlalu kurus, aku percaya kau takkan melemah pada gravitasi. Dan aku tergila-gila pada segala wujud impulsif. Sering aku merindukan, namun kau terlalu tegas memberi batasan.

Kau sehangat pelukan, dan seistimewa bisikan di keramaian. Aku tak pernah menghitung seberapa banyak aku memperhatikanmu dari kejauhan. Tapi cukup banyak untuk mengingat apa pesan yang kau sampaikan lewat tatapan yang dalam dan tenang. Kini, segala pemandangan hanyalah punggungmu.

Menjadi orang yang menyenangkan itu sulit, terlalu banyak hal yang tidak aku sukai—kalau kau ingat. Aku berharap tidak menyebalkan, nyatanya kehilangan kesabaran adalah keahlian terbaikku. Terlalu sering barangkali, semoga maaf akan cukup.

Jika tidak, seharusnya aku sudah tahu.

Aku tidak marah karena kau bahagia. Aku tidak marah karena kau bisa mencintai orang lain. Aku tidak mungkin marah karena itulah caraku menunjukkan kekuatan untuk merelakanmu. Aku tidak marah karena kau tahu caranya pergi. Aku tidak marah karena kau benar-benar tak mau tahu.

Aku marah atas berbagai kesedihan.

Aku sedih, karena ternyata kau bisa.

Sedih, karena segalanya hanya tentang rencana dalam kita. Tidak pernah benar-benar ada yang terjadi. Aku tak haus akan pembuktian, hanya segala rencana yang tidak mampu terwujud bicara banyak tentang Kepantasan. Dan melihat begitu banyak yang mampu kau capai dari segala yang pernah kita ulang-ulangi dalam percakapan memperjelas seberapa yang bisa kugenapkan tentang Kepantasan.

Sejelas ini: Kita memang hanyalah rencana-rencana.

Jika ketidakmampuanku menjaga kesabaran yang menenangkan bagimu terlalu menyakitkan, hingga harus ditukar dengan berbagai isyarat bahwa Kepantasan itu, tak pernah singgah di antara pelukanmu yang aku suka, maka aku tak tahu jalan yang lebih baik daripada bersedih atas ini sampai nanti pada waktunya aku lupa untuk apa.

Tapi selalu, kau layak akan segala bahagia—bahkan ketika pelukan yang paling aku suka telah  dimiliki orang lain yang senang kau putarkan sebuah lagu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s