Bodhi yang Mengakar

Awalnya saya ingin menulis review serial Supernova, dikarenakan telah menyelesaikan Intelegensi Embun Pagi sebulan yang lalu. Ternyata menuliskan setengah review, hanya adalah untuk menyadarkan saya, kata “Akar” diulang terlalu banyak. Dia memang point of interest saya dalam landscape Supernova, dan akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan kesan saya tentang Akar di tulisan terpisah.

Akar Cover
This is an old cover, I read my cousin’s book (photo found here).

Bodhi is bald, and I don’t even like bald men, well I guess love is about making exception, sometimes.

Saya membaca Akar pertama kali di 2006, dan sepanjang buku saya terus menerus diliputi satu hal: rasa simpati. Walaupun Kabut adalah tokoh andalan saya di heksalogi ini, Partikel adalah buku yang paling berkesan, dan KPBJ adalah yang terfavorit, Akar-lah satu-satunya buku dari serial Supernova yang saya baca lebih dari dua kali—dan saya memang sangat jarang membaca buku yang sama dua kali. Ketika membaca Akar pertama kali, seperti layaknya anak umur 14 tahun yang masih di bawah pengaruh sihir J. K Rowling, trying to understand life of a tattoo artist with Lonely Planet book who travels South-East Asia, is way too harder than to believe that one day I will get a letter saying that I got accepted to study magic in Hogwarts.

SONY DSC
Found it here.

I was 14 and I thought Marijuana is something we can have in our backyard like a cactus or something.

Ketika membaca lagi Akar pada 2011, seperti sedang membaca buku baru dan rasa simpati yang sebelumnya berubah ke arah empati. Membaca Akar di usia 18 tahun adalah tentang kesiapan mental yang lebih pas untuk menelusuri pergerakan hati lelaki yang tidak pernah bayar uang sewa kos ini. By this time, I know already that Marijuana is more complicated than just a plant, by the way. Pengetahuan yang baik, memang adalah pengetahuan yang berkembang.

Membaca Intelegensi Embun Pagi adalah sebuah kelegaan yang luar biasa untuk bagian diri saya yang jatuh hati pada sesuatu dalam Bodhi. Akhirnya membaca Intelegensi Embun Pagi bukanlah keseruan yang sama dengan menemukan akhir kisah untuk Akar.

We know Akar bukan tokoh yang berbahagia, tapi dia punya daya tarik yang tidak terjelaskan. Ada sebuah keasingan sekaligus kematangan yang berbeda ketika menelusuri Akar dibanding tokoh-tokoh yang lainnya. Ketika para Peretas-peretas amnesia ini menjadi manusia dan berkembang dengan cara mereka masing-masing, Bodhi menjadi manusia dengan sebuah karakter bersensasi mematikan, tapi cantik, dan dalam.

Membaca Intelegensi Embun Pagi, adalah menemukan akhir bagi kegelisahan Bodhi sekaligus memahami kegelisahan tersebut sebagai kenormalan bagi semua orang yang tidak tahu bahwa ia tahu. Intelegensi Embun Pagi menjawab pertanyaan saya tentang Bodhi selama ini. Jadi, walaupun saya tidak sepenuhnya puas akan Intelegensi Embun Pagi sebagai ending, saya cukup puas bagaimana serial Supernova berakhir bagi Bodhi.

Bodhi terlalu lama merasa berbeda tanpa punya penjelasan apa-apa—dan saya juga, gemas dan prihatin akan kondisi itu.

Ia sebatang kara, setelah ditinggal mati oleh satu-satunya keluarga yang ia tahu—itupun bukan keluarga biologisnya. Kemudian ketika memutuskan untuk mengembara, ia ditinggal mati oleh satu-satunya teman yang ia punya, dan hidup sebagai nomaden memiliki teman dekat adalah kemewahan yang jarang. Hidup dengan kekuatan yang tidak dia mengerti juga tidak membuat hidupnya yang sepi, sedikit lebih santai. Ketika pertama kali mengakses memorinya tentang Asko lewat Petir, dia merasakan sesuatu. Saya melihat ini seperti sebuah perasaan bahwa ia pulang, bahwa ia tidak sendirian, semacam itu. I literally freaked out when I read about this in Gelombang. Di akhir buku kelima itu, saya malah sepenuhnya lupa bahwa Gelombang adalah tentang Alfa, yang membekas justru interaksi Akar dan Petir. Di situ, saya masih belum mendapatkan gambaran endingnya, saat itu saya masih berpikir bahwa ini adalah urusan mata-mata yang mencari Diva karena membongkar rahasia sebuah institusi rahasia—and they don’t come from another dimension.

 

Ohm
Found it here.

Jadi tentu saja saya merasa lega, sama seperti Bodhi saya kira.

Sepanjang hidupnya, Bodhi selalu merasa terlepas dari semua yang dia punya, dari kehidupannya sendiri (mungkin keterasingan memang adalah alat pahat terbaik untuk membentuk jiwa yang hidup layaknya karya seni). Setelah tahu bahwa ada sesuatu yang mengikatnya dengan kehidupan ini dan kekuatan yang tidak dia terima selama ini punya satu tujuan, yaitu misinya terhadap kelahiran Peretas Puncak, his beautiful(ly written) soul menjadi semakin menarik.

Bagian penting di Intelegensi Embun Pagi adalah kedekatan Alfa dan Bodhi, bagaimana kehidupan dan karakter mereka dibandingkan tanpa menjatuhkan. Adegan yang perlu ditandai adalah ketika Alfa berpikir untuk kembali ke New York mengurusi saham, daripada menyelesaikan misi (yang dia bangun sendiri). Dan di sisi lain, Bodhi, dengan satu-satunya hal yang membuat dia merasa belongs to something, terhubung pada sebuah bentuk kehidupan, tidak sedikitpun mengurungkan niat untuk terus melanjutkan apa yang telah mereka ketahui. Bayangkan, seseorang yang ketika menemukan dirinya, walaupun segala masa lalu dan pengetahuan yang dia punya jadi berantakan karena dunianya dijungkir balikkan oleh sebuah skenario yang sengaja ditutupi darinya, tetap memilih untuk meneruskan keharusan itu, karena di situlah dia menemukan dirinya dan tujuan hidupnya.

He sees Life so much bigger than he sees himself, and that’s beautifully important.

DSC_5809_ps
Ini mengingatkan saya pada adegan Bodhi melihat penapakan Guru Liong di tepi sungai. (photo from here.)

Bodhi punya kedalaman emosional yang indah, yang saya temukan di hal-hal kecil sebagai reaksinya terhadap hal-hal yang dia hadapi, dan caranya mencerna pengalaman sejak ia masih bersama Guru Liong, perjalanannya di negara tetangga, sampai di akhir ketika dia menyadari bahwa hidupnya adalah tinggal menunggu mati dikarenakan telah menyelesaikan misi. Saya memiliki beberapa teman yang menjadikan Punk sebagai ideologi mereka, sesedikitnya saya melihat bagaimana Punk diterapkan dalam keseharian. Bodhi sebagai seorang Punk menjadikan keterasingan Bodhi menjadi sesuatu yang membumi, dan termaksimalkan lewat cara itu, walaupun Punk ala Bodhi tidak sekuat dan “sefasih” Bong.

Keterasingan, kadang terlalu menyedihkan jika tidak berada di tempat yang tepat. Namun melalui Punk, keterasingan Bodhi bertransformasi menjadi sesuatu yang tidak terlalu mengawang. Pada akhirnya, kombinasi ini ditambah kekecewaan Bodhi terhadap ajaran Buddha yang ditanamkan padanya sejak kecil, namun hadir di saat-saat terdesaknya (yang sering kali lucu) membuat daya tarik Bodhi lahir dengan cara yang janggal, tapi mengesankan.

Dia tidak kehilangan selera humornya, dan itu penting (walaupun selera humornya sangat payah dan lebih cocok menjadi miris ketimbang lucu). Dan sensasi mematikan terakhir dari Bodhi adalah, sikapnya yang canggung—it’s awfully cute!

Supernova memang bukan tentang Akar. Tapi saya menemukan sesuatu yang bagi saya, tidak kalah pentingnya dari heksalogi ini, sebagai sebuah karya Sastra. Jika sastra adalah untuk mengabadikan keindahan, maka saya menemukan keindahan sebuah cara pandang melalui Bodhi dalam melihat kehidupannya dan perannya di sana.

akar 5
Bodhi tanpa bandana, berarti siap mendengarkan. (photo found here)

Jadi, di tulisan ini, saya ingin menyempatkan berterima kasih kepada Ibu Suri, untuk ending “tanpa pendamping” buat Bodhi. Tidak ada ending yang lebih pas dan melegakan daripada itu. Lebih baik 1000 Kell untuk Bodhi daripada seorang kekasih, apalagi jika dia secantik Ishtar.

Cukup satu kali ciuman untuk Bodhi di sepanjang serial, dan kita semua akan baik-baik saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s