Mulai Bicara (?)

Belakangan, berita tentang Pemerkosaan muncul beberapa kali dengan cerita-cerita yang sedih, dan memicu amarah. Saya terus menerus patah hati memikirkan, betapa banyaknya orang yang membenci ini, dan berharap bisa menghentikan hal serupa terjadi lagi. Tapi, tetap saja ada yang terlalu goblok untuk muncul di pemberitaan atas kebejatannya yang sungguh najis.

Terbuat dari apa hati mereka hingga tak sampai memahami bahwa tindakan kotor itu tidak layak menimpa siapapun tanpa terkecuali?



Pemerkosaan (ini adalah terakhir kalinya kata ini muncul di sepanjang tulisan, karena menuliskannya berkali-kali benar-benar tidak nyaman) atau Pelecehan Seksual itu keji, dengan tingkat kekejiannya tidak terbayarkan, bahkan ketika Ibu sang korban mencincang habis seluruh bagian tubuhnya. Dan yang paling keji adalah mereka yang melakukannya kepada anak di bawah umur.

Mengapa harus seorang anak yang bahkan tidak mengetahui apa yang sebenarnya mereka alami, harus membayar ketidakmampuan seorang bejat yang tidak tahu cara merayu perempuan seumurnya? Mengapa seorang anak harus membayar tindakan hina seseorang yang tidak bisa mengatur keuangannya sendiri untuk menyisihkan dana untuk membayar seks kepada mereka yang menjadikan itu profesi? Mengapa seorang anak harus tumbuh dan berkembang, hidup bersama bagian masa lalu yang sedingin itu hanya karena seseorang tidak bisa berpikir lurus dan mengendalikan diri?

Mengapa begitu mudahnya menemukan berbagai macam informasi tentang bagaimana seks itu dilakukan, tapi tidak begitu mudah memberikan pelajaran tentang apa seks itu seharusnya (yang sama sekali tidak sesempit pelampiasan birahi)? Mengapa begitu mudahnya mengajarkan peran dan tugas laki-laki dan perempuan, namun tidak begitu mudah menegaskan kewajiban masing-masing terhadap penghargaan diri dan saling menghormati hak sesama manusia? Mengapa banyak waktu dihabiskan untuk saling menyalahkan, tapi tidak mudah menciptakan lingkungan yang lebih aman?

Ini adalah nista yang bahkan memikirkannya pun menularkan kobodohan yang sama. Begitu tidak masuk akalnya perbuatan ini, sehingga penjelasan apapun gagal menemukan pemakluman. Karena tidak ada pemakluman yang pantas dan mampu membantu memahami. Begitu gobloknya tindakan ini, hingga segala pencegahan terdengar konyol, setiap hukuman terasa tak pernah cukup. Berharap bahwa tidak ada lagi yang harus mengalami adalah kerja keras yang panjang dimana semua orang harus bekerja sama demi lingkungan yang aman bagi anak manapun dan, semua orang.

Kebodohan yang tak tertahankan tidak seharusnya menjadi malapetaka bagi orang lain. Sempitnya pikiran tidak seharusnya dibayar oleh orang lain dibawah ancaman dan teror. Ketidakmengertian anak-anak tidak seharusnya menjadi keuntungan bagi mereka yang bahkan kematiannya pun takkan menghapus ingatan. Tidak ada kepantasan yang akan menjadi benar, tidak satupun.

Dan berhentilah berpikir bahwa tindakan keji ini dilakukan melulu oleh lelaki. Hanya karena perempuan selalu dijadikan objek keindahan di media, bukan berarti mereka akan selalu menjadi objek di ruang-ruang lain. Betapa menyakitkannya jika ada laki-laki di luar sana yang harus menutup mulut jika mengalami hal serupa hanya karena ia tidak punya keberanian yang cukup untuk mengadukan apa yang ia alami hanya karena dia bukan Perempuan.

Bagaimanapun juga, setiap ada “korban”, maka ada seseorang lain yang menjadi “tersangka”. Memperbaharui sistem hukuman adalah sebuah langkah yang patut dirayakan. Tapi solusi yang dibutuhkan jauh lebih besar, karena pepatah lama “lebih baik mencegah daripada mengobati” akan selalu benar. Selalu, karena jauh lebih benar untuk mencegah kemunculan kasus dari awal, daripada harus membereskan kekacauan ketika itu telah telah terjadi.

Dunia ini seharusnya menjadi tempat yang baik dan aman untuk anak-anak. Mereka tidak bisa dijejali keharusan untuk bersekolah, dengan resiko mengalami pelecehan seksual (bahkan terbunuh) di toilet sekolah atau di jalan pulang ke rumah. Tidak ada satupun anak yang lahir untuk hidup dalam kesuraman akibat otak-otak dungu yang mengira dirinya manusia.

Mencegah jatuhnya korban selanjutnya adalah tanggung jawab yang sama untuk mematikan kemungkinan munculnya tersangka. Menciptakan lingkungan yang aman bagi korban, seharusnya juga dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan yang sehat bagi kemungkinan tersangka. Ada ketidakseimbangan, ketika mengajarkan anak-anak (baik lelaki maupun perempuan), untuk berhati-hati tapi tidak berusaha mendidik untuk tidak bermoral rendahan.

Tidak ada yang perlu berhati-hati jika tidak ada yang mengancam.

Satu detail kecil lagi: sudah seharusnya berhenti menyalahkan korban atas apa yang ia kenakan. Segala kesalahan adalah milik Pelaku, karena memang dia yang memutuskan untuk melakukannya. Toh, jika ia bisa menggunakan otaknya untuk memperbaiki pola pikirnya yang salah akan seks dan perampasan hak, dia tidak akan memutuskan untuk melukai siapapun.

Harus seberapa muak lagi, sampai setiap orang sadar bahwa melakukan tindakan menjijikkan ini adalah bukan pilihan? Ia sesederhana ini: tidak diperbolehkan, tidak akan pernah boleh dilakukan. Seberapa sulitnya menyadari ini?

Jangan merampas atau memaksa! Karena selalu ada cara lain. Selalu!

Menikah! Jika terlalu sulit, bayar mereka yang berprofesi menyediakan jasa pelayanan seks. Atau temukan pasangan yang bersedia, dan sepakat untuk tidak mempermasalahkan penikahan. Bukan membenarkan apa yang dilarang dalam Kitab Suci, hanya saja itu jauh lebih baik daripada memiliki seseorang sebagai korban dalam sebuah cerita pedih. Beli sex doll, atau sex toys dan lakukan sendiri dengan segala privasi. Teknologi yang mengizinkan segala kenyamanan, itu tidak dikembangkan untuk jadi bahan tertawaan. Mengorbankan seseorang jauh lebih salah daripada menikmati tubuh buatan. Sungguh, jauh lebih baik punya tetangga yang memiliki boneka seks ketimbang mendengar anak tetangga masuk TV Nasional dengan nama samaran.

Atau BERPIKIR WARAS!

Jangan merampas atau memaksa! Karena selalu ada cara lain. Selalu! Ia sesederhana ini: tidak diperbolehkan, tidak akan pernah boleh dilakukan. BERPIKIR WARASLAH!

Brain
Ini otak, GUNAKAN!

NB:  Untuk yang memaki para pelaku sebagai Binatang adalah tidak tepat. Binatang melakukan hubungan intim karena bagi mereka berkembang biak adalah untuk melestarikan keturunan. Kekejian semacam itu tidak akan pernah tepat diletakkan disebut sebagai bentuk kebinatangan.

Di dunia binatang, seks bukan sesuatu yang dilakukan setelah kedua belah pihak keluarga telah saling setuju, dan undangan telah disebar. Atau karena cinta. Bagi mereka seks adalah sebuah bagian dari hidup, dan baik betina dan penjantan memahami ini sebagai sebuah tugas. Sealami makan dan naluri berlindung dari Predator, untuk tujuan “melestarikan keturunan”, atau “menghindari kepunahan”.

Maka dari itu, jika seks adalah alasan mengapa hal-hal keji terjadi pada orang-orang yang tidak berdaya, lebih baik manusia tidak perlu melestarikan keturunan, dan menyegerakan kepunahan. Dalam hal ini, Binatang memenangkan kompetisi. Mengumpat atas nama mereka adalah melecehkan para binatang, dan meninggikan derajat Pelaku yang jelas-jelas telah kehilangan kemanusiaan mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s