Dimana-mana

Merindukan seseorang itu, seperti sedang tidak berada dimana-mana.

Lalu, bagaimana menjelaskan “tidak berada dimana-mana”? Tidak bisa. Karena ia tidak ada. Selanjutnya, bagaimana menjelaskan keberadaan diri sendiri ketika tempat kita berada, tidak ada? Bisa buat lupa, mana yang nyata mana yang tidak.

Sebenarnya bukan tidak sedang dimana-mana, karena tidak bisa seseorang berada tidak dimana-mana. Karena dimana-mana selalu punya lokasi yang jelas, sudah aturannya begitu. Hanya saja, rasanya seperti tidak sedang dimana-mana.

Kau sedang duduk diam, dimanapun kamu duduk sekarang. Tapi rasanya seperti ada yang salah. Seperti sebuah perasaan yang kuat sekali, terlalu kuat hingga membuat kamu yakin, kamu tidak seharusnya berada di situ.

Lihat, kamu sebelumnya baik-baik saja, sepenuhnya sadar apa yang kamu lakukan. Memandangi sekitar, atau layar. Sampai kemudian, matamu menangkap sesuatu yang mengingatkanmu pada sepasang mata yang berbulu mata lentik lucu. BOOOOOM! Kamu tidak bisa konsentrasi pada ruang yang mengelilingimu, karena dikepalamu sedang terputar sebuah film yang gambar-gambarnya adalah milik kenangan. Dan bersamaan dengan hilangnya konsentrasi, kamupun terlepas dari realita di sekitarmu. Seperti segala suara adalah bunyi yang tidak bisa diterjemahkan maknanya, hanya terdengar macam dengungan-denngungan berantakan.

Sedang kepalamu dihantam teratur dengan aliran-aliran melankolis yang keluar dari portal kenangan yang terbuka, karena sesuatu tanpa peringatan sebelumnya, mengingatkanmu pada sosok yang ingin sekali kau ajak bicara, tapi bumi membentang terlalu kejam memaksakan adanya ukuran jarak yang tidak lagi terhitung secara matematika. Dan ketika rindu yang menghitung jarak padahal seharusnya matematika, kilometer berubah menjadi konsep yang tidak terjangkau. Ribuan kilometer dengan angka yang pasti itu, tidak lagi masuk akal.

Itu, ketika rasanya sedang tidak dimana-mana, karena kamu membenci koordinat dimana posisi kamu di Alam Semesta menjadi jelas. Kamu ingin menyusutkan bumi, atau mempunyai tangan yang panjangnya keterlaluan. Atau apa saja, yang biasa dilakukan manusia yang terjebak dalam dimensi ruang dan waktu lakukan ketika ingin menuntaskan rindu.

Sayangnya, Keterbatasan selalu senang menjadi penguji dalam hal semacam ini, mungkin Keterbatasan senang dimaki dan dikutuki.

Jadilah kamu merasa sendiri, padahal mungkin tidak sedang sendiri (semoga tidak sendiri). Duduk tenang, seolah-olah sedang menikmati berada di situ. Padahal kamu sedang menghadapi badai, tsunami, lengkap dengan guntur yang menggelegar di dalam dirimu karena rindu, yang ketiganya bersumber dari sebuah ketenangan yang selalu kamu nantikan: sepasang mata dengan bulu mata lentik lucu. Nah! Bagaimana kekacauan semacam itu lahir dari ketenangan penuh candu?

Sial, pertanyaan lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s