Mungkin Kau Sedang Rumit

Ternyata berbagai nasihat untuk tidak membuang-buang waktu pada pria yang salah, akan menjadi terlalu sia-sia ketika kita jatuh hati pada salah satu dari mereka yang salah itu.

Katanya, pria yang tepat… atau setidaknya cukup baik, tidak akan membuatmu bertanya-tanya tentang kepantasanmu. Katanya, dengan pria yang tepat, segalanya terasa cukup. Kemudian kau berpikir, kau pasti goblok jika tidak mengamini hal semacam ini, dan tidak akan jatuh hati kecuali segalanya terasa benar. Sampai pada suatu hari, kau tidak beristirahat seperti seharusnya karena kau sibuk memikirkan seberapa jauh kau harus meninggalkan dirimu sendiri hanya agar ia berpikir kau adalah orang yang dia cari. Hingga akhirnya, kau sadar bahwa kau sering meminta lebih, bukan karena kau menuntut terlalu banyak… sebaliknya, justru karena ia memang selalu memberi segalanya dalam jumlah yang tak utuh. Ia memberi terlalu sedikit, karena dia tidak begitu memikirkannya, tidak begitu memikirkanmu.

Selalu ada sesuatu yang menggantung, dan itu adalah sesuatu yang hadir tanpa terbantahkan diantara kau dan orang yang salah. Apa yang jelas adalah segala yang ingin kau tolak, dan dia bahkan tidak membantumu. Dia hanya akan menambah berbagai macam hal dalam kebingunganmu. Sewaktu-waktu ia terasa sangat benar, hanya untuk membuatmu kelelahan jauh lebih lama.

Ketika kau mengeluh, ia seolah mendengarkan tapi kau tahu ketika matahari terbit esok hari, ia tetaplah orang yang sama. Orang yang meninggalkan keresahanmu untuk dirimu sendiri. Kau mengutuki dirimu sendiri, sampai pada titik kau tidak tahu caranya mencintai dirimu sendiri tanpa omong kosongnya. Ketika kau seharusnya berhutang maaf pada dirimu sendiri, kau malah menyeret sisa kewarasanmu untuk datang memohon sedikit cintanya. Kau takhluk dengan sangat dungu, dan ia tahu itu.

Kau yang berperasaan, dan kau membiarkannya mengaduk-aduk, mengacaukan, lalu membiarkan kau menghadapinya sendiri.

Kau menolak dituduh bersalah dalam kekacauan ini, padahal kau jelas mengerti, setiap kesempatan yang kau berikan, nyaris selalu ia kembalikan dengan kekecewaan. Keoptimisanmu akan kesediaannya meletakkan ia di tempat paling tenang. Siapa yang tidak akan merasa terbang di awan ketika setiap kali ia berlaku salah, kau selalu menginjak-injak dirimu sendiri untuk memaafkannya?

Kenikmatan semacam itu memang membuat orang lupa karma.

Yang salah tentu saja orang yang salah itu. Dia menyia-nyiakan seseorang sebaik (dan sebebal) kau. Dia salah karena memperlakukan seseorang begitu buruknya padahal menurut dongeng, cinta itu adalah kebahagiaan yang harus dirayakan seumur hidup. Dia yang salah karena menempatkanmu di posisi yang buruk ketika segala yang kau beri adalah kebaikan. Tapi kemudian… kaulah yang berhutang maaf pada dirimu sendiri untuk terus mengedepankan seseorang yang brengsek sebelum dirimu sendiri.

Sampai kau temukan cara untuk angkat kaki, maka aku ucapkan: Selamat Menikmati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s