Semacam Kebingungan, atau Ketidak-sepakatan Mungkin

society-gets-what-it-deserves

Dengan segala kerendahan hati. Saya pikir pesan-pesan yang kita temukan di jalanan untuk menjelaskan betapa salahnya sistem yang berjalan di masyarakat saat ini, jika disampaikan dengan menggunakan bahasa inggris, kesannya yang membuat pesan hanya ingin menunjukkan kemampuan mencari kutipan di Google dan keterampilan mereka mencoret-coret saja.

Kalau pesannya menggunakan bahasa inggris yang sesungguhnya adalah bukan bahasa Ibu kita, maka jadi ada proses yang akan memperlambat dipahaminya pesan tersebut. Bukan sedang merendahkan siapa-siapa, tapi tidak semua orang Indonesia fasih berbahasa inggris. Kalau memang yang ingin diperingati adalah mereka yang nasibnya paling tertindas, rasanya konyol saja ketika pesannya ditulis berbahasa inggris. Bukannya mereka saja sedang jungkir balik menghadapi hidup mereka yang tertindas? Bisa saja mereka sudah putus sekolah sebelum sempat fasih berbahasa inggris, atau mungkin tidak lagi punya waktu, tenaga dan biaya untuk kursus bahasa inggris. Dan yang bisa memahami pesan berbahasa inggris itu, ternyata adalah mereka yang sibuk bekerja di perusahaan-perusahaan besar, mengisi posisi-posisi penting yang penamaannya menggunakan bahasa inggris.

Bagaimana caranya membuat orang-orang yang sibuk bekerja itu memikirkan sebaris pesan yang mereka temui di jalan pulang dari kantor di saat yang sama mereka punya banyak sekali urusan pekerjaan yang harus diselesaikan?

Pesan jalanan semacam ini jadi sangat lucu. Bahkan ketika kemampuan menerjemahkan itu ada, bahasa yang lahir dari budaya yang berbeda akan tetap memunculkan makna-makna yang tidak bisa diterjemahkan mentah-mentah, oleh sebab perbedaan budaya yang menyebabkan adanya konteks-konteks tertentu, yang memerlukan penjelasan lebih jauh untuk disesuaikan dengan budaya lokal, setelah disesuaikan. Sebaris kalimat yang dibaca dalam waktu kurang dari semenit tidak akan selalu cukup.

Belum lagi ditambah kerumitan bahwa sebuah isu atau pembahasan yang sudah ada sebelumnya, tidak bisa begitu saja langsung dipahami oleh orang-orang yang tidak pernah mendengar itu sebelumnya. Kecuali mungkin pesannya memancing untuk mengantarkan orang-orang pada suatu isu yang mereka bahas di suatu ruang yang bisa diakses semua orang. Kalau pesannya memang hanya itu saja yang dituliskan di dinding di pinggir jalan, menggunakan bahasa yang bukan milik semua orang di tanah ini, jadi bagaimana?

Jalanan adalah tempat dimana segala hal yang sedang di dalamnya akan terus bergerak, kecuali jika macet, mungkin pergerakannya sedikit lebih lambat. Maka, bagaimana peringatan itu bisa dipahami sepenuhnya jika ia selalu dilihat sambil lalu? Dengan bahasa Ibu saja, kesalah pahaman dalam komunikasi bisa terjadi. Apalagi dengan bahasa yang tidak digunakan secara umum dalam keseharian.

Atau memang pesan-pesan di jalanan itu memang tidak dimaksudkan untuk memperingati siapa-siapa, dan yang menuliskannya hanya sedang suka-sukanya dengan kutipan yang mereka temukan ketika berselancar di sosial media lewat hastag #FuckedUpSociety atau sejenisnya, dan sosial media mereka sendiri dirasa tidak cukup untuk membagikannya kepada khalayak?

Dengan segala kerendahan hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s