Tapi Kau Dipaksa Bermimpi Besar

Ia adalah Pembunuh Mimpi.
Biasa kau temui Ia di antara dompet-dompet lusuh namun tebal dan berat oleh berlembar-lembar kuasa yang kadang salah kau artikan dengan kasih sayang. Ia memang tidak pernah membelimu dengan itu, karena kau tak punya apa-apa untuk ditukar dengan itu, walau selembar.
Namun diam-diam, dalam ketidak berdayaanmu, Ia menutup dunia yang dipenuhi pikiran-pikiran terbakar, pikiran-pikiran terbang. Ia menutup dunia penuh kemungkinan itu darimu.
Lembaran-lembaran kuasa itu, ditukarkannya dengan kepatuhanmu yang abadi.

Percayalah. Ia adalah Pembunuh Mimpi.
Warna-warna bahagia dari kantongmu, disembunyikannya. Lalu Ia menyimpan warna-warna itu di bawah bantal di kamar tidurnya. Menyisakan kertas-kertas kosong, untuk kau isi dengan daftar panjang berisi angka-angka yang menghitung keberuntunganmu. Padahal kau sedang bersial diri.
Dikatakannya, dunia ini hanya hitam dan putih. Dia meyakinkanmu hampir setiap malam, bahwa warna-warna lain adalah ilusi panjang yang akan membuatmu kehilangan kesadaran.
Tujuh warna pelangi kesukaanmu, Ia ingkari tanpa ragu.

Buka matamu! Ia adalah Pembunuh Mimpi.
Tidurmu tak pernah menyelesaikan lelah apa-apa. Karena kau selalu terbangun di bawah langit pagi yang penuh dengan tanggung jawab yang tidak pernah kau pilih. Bergerak dalam waktu tanpa mempertanyakan apa-apa.
Ia berhasil membuatmu percaya bahwa ketika kau letih, kau telah melakukan sesuatu yang benar.
Karena rasa letih itu adalah bentuk perjuangan, ia membuatmu percaya bahwa kau adalah pejuang.
Kalian semua terlihat saling melengkapi, walau sebenarnya kau didominasi.

Senyap Gulita

“I still hide you in my poetry.” — M. Razon

Ambil omong kosongnya.
Lalu berjingkat dalam gelap dan tutup pintu, keluarlah.
Di sisi lain ada kejutan tentang keistimewaanmu.
Tidak ada apa-apa di sini untukmu.
Menuju pintu lalu keluar.

Di sini banyak celah untuk membayangkan apa yang kira-kira.
Tapi, tidak cukup cahaya untuk memastikan.
Kegelapan adalah teman baik.
Tapi milik siapa?
Entah, mungkin jawabannya di luar.

Coba temukan, karena tidak ada apa-apa di sini untukmu.

Namun Seperti Layaknya Hal-hal Lain, Ia Sementara

Berkecukupan adalah dambaan.
Mencapainya adalah menemukan kebahagiaan.
Tanyakan padaku di suatu pagi yang dingin pertengahan awal tahun.
Saat itu aku tahu pasti rasanya terbangun dan tidak menginginkan apapun selain yang ada di ruangan kecil itu.

Padahal kukira, bahagia adalah konsep semu yang bertindak sebagai iming-iming agar setidaknya kita percaya pada sesuatu sebelum mati.

Waktu Aku Bermimpi Tenggelam

Lelahku dihinggapi sepi.
Kau serupa cahaya yang tak mau mati: memiliki kehendaknya sendiri, sambil terus menguasai.
Temukan aku di sini, di sebuah kotak yang tak mengenal pagi—aku sedang takut bermimpi.

Rengkuh harapan ringkih, bawa ia pergi meski hanya itu yang aku miliki.
Karena kini, ia hanya berupa kepingan dingin.
Maka bayangkan betapa tanganku mati rasa menungguinya sesuntuk malam.

Kau cahaya, tapi aku nyaris buta.