Because of This Girl who Cried on My Bed on Thursday Morning

I envy her, I envy her even though I laughed inside as she told me why she cried.

But I envy her, especially after she told me why. I envy her ability to cry over negligible reason. I envy that she can put so much weight on herself, but at the same time, know how to drop that burden for a while, through tears. I envy her for letting that bother her enough to cry about it.

I envy the simplicity that she puts into her feelings, crying when she needs to or just to release the unbearable.

Continue reading “Because of This Girl who Cried on My Bed on Thursday Morning”

Dengar Bebunyian yang Kau Kira Tak Bermakna Itu

Dan jangan biarkan hal-hal semacam ini mengganggu, betapapun ia membuatmu bertanya-tanya. Di dalam sebuah mimpi, pelukan itu sedingin udara seusai tsunami. Kukira hanya mimpi buruk, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa kaulah raungan ganas yang mengisyaratkan bahaya.

Ketakutan itu seperti jangkar yang menahan langkah untuk bergerak jauh, melihat sejauh apa jarak nestapa yang akan datang. Ingatan-ingatan bersembunyi dalam lorong-lorong gelap, yang sesekali tersinari cahaya yang memantul dari mana saja. Segalanya sudah berhamburan, saling diam dengan rasa takut yang juga menggigil di sana.

Lagi, menertawakan itu seolah ia tak mengganggu adalah cara bersembunyi. Topeng sesungguhnya adalah teman baik, yang dalam kemunafikannya mencoba menantangmu untuk bertahan sedikit lebih lama. Jangan hancur, tidak binasa, oleh pertanyaan-pertanyaan yang membuatmu ragu melangkah. Pilihan selalu menjawab dengan jelas, apa yang kau dahulukan. Apakah ketenangan batinmu, ataukah kebahagiaan orang lain?

Kau tidak akan berpikir terlalu lama jika kau selalu tahu.

 

Ini Sajalah

Ketika semua pahit telah terjelaskan, ketika segala celah sudah saya perhitungkan, saya merasa tidak tahu harus protes bagaimana. Karena saya sudah tahu. Saya bingung harus merasa bagaimana, harus bersikap bagaimana saat ternyata yang saya tahu sebagai sebuah kemungkinan menjadi kenyataan. Saya bingung harus marah bagaimana, sedih seperti apa, dan hancur seberantakan apa. Rasanya, ketika saya harus marah, sedih, atau hancur, itu sudah terlambat. Semacam tidak ada yang bisa dilakukan untuk membenarkan segala emosi itu.

Something for the Weekend

Two nights ago, I went to an event. I was with friend and he asked me, “do you want to go there?”

I said, “not really, but I want to, but not really.”

“Yeah, I feel the same way. Even when I want to, I wouldn’t stay long there.”

“Let’s just go then. I want to go but I don’t want to stay too long. And you won’t stay there long.”

“Alright.”

So we went. Continue reading “Something for the Weekend”